Yuk, Jadi Nasabah Bijak dan Lindungi Diri dari Kejahatan Siber

Menjadi Nasabah Bijak itu sebuah kewajiban untuk kita agar dapat melindungi diri dari kejahatan siber yang ada di sekitar kita. Saat ini digitalisasi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Internet menjadi salah satu dari sekian banyak teknologi yang selalu digunakan oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Penggunaan teknologi berbasis jaringan internet memiliki tujuan untuk memudahkan aktivitas manusia. Tapi teknologi seringkali disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan dampaknya merugikan orang lain.

Kehadiran layanan finansial perbankan digital tentunya harus disertai dengan adanya tingkat pengetahuan nasabah terhadap penggunaan layanan tersebut. Nasabah harus menjadi nasabah yang bijak dalam bertransaksi perbankan. Tidak dapat dimungkiri, adanya layanan finansial perbankan digital juga kerap dijadikan celah bagi para pelaku kejahatan di dunia maya.

Cyber crime atau kejahatan dunia maya adalah tindakan ilegal yang dilakukan pelaku kejahatan dengan menggunakan teknologi komputer dan jaringan internet untuk menyerang informasi korban.

Contoh Modus Kejahatan Siber

Salah satu contoh kejahatan siber adalah adanya kiriman pesan whatsapp yang mengaku customer service BRI. Isi dari pesan tersebut ialah menyampaikan kebijakan baru BRI yang akan memotong biaya administrasi setiap bulan nya sebesar 150 ribu. Bahkan, ada juga penipu yang sampai menelpon korban untuk menyampaikan berita palsu tersebut.

Jenis-jenis kejahatan cyber crime :

Phising

Phising adalah tindakan penipuan dengan cara mengelabui korban. Biasanya aksi kejahatan ini dilancarkan melalui media sosial, seperti mengirimi link palsu, membuat website bodong, dan sebagainya. Tujuannya ialah untuk mencuri data penting korban, seperti identitas diri, password, kode pin, kode OTP (One Time Password) pada akun-akun keuangan.

Carding

Carding ialah jenis kejahatan yang dilakukan dengan bertransaksi menggunakan kartu kredit milik orang lain. Nomor kartu kredit korban sebelumnya telah dicuri dari situs atau website yang tidak aman, bisa juga didapat dengan cara membeli dari jaringan spammer atau pencuri data. Setelah carder, sebutan pelaku kejahatan carding mengetahui nomor kartu kredit korban, pelaku kemudian berbelanja online dengan kartu kredit curian tersebut.

Skimming

Hampir mirip dengan kejahatan carding, yaitu mencuri data kartu debit atau kredit korban. Bedanya yaitu cara kerja skimming dengan membobol informasi pengguna memakai alat yang dipasang pada mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) atau di mesin gesek EDC. Skimming dapat terjadi ketika kamu sedang bertransaksi belanja online. Ketika kartu debit debit atau kredit terhubung dengan gawai, maka risiko terkena skimming menjadi lebih tinggi.

Spoofing

Yakni penyamaran dengan mengaku sebagai pihak berwenang seperti dari bank atau pemerintah.

Pemalsuan identitas

Pada jenis kejahatan ini, penipu akan berpura-pura menjadi orang lain. Biasanya, penipu akan menyamar menjadi seseorang yang kita kenal seperti keluarga ataupun teman dekat kemudian meminta data pribadi seperti password bahkan langsung meminta transferan uang.

Cara melindungi diri dari kejahatan siber

Gunakan kata sandi atau password

Penggunaan kata sandi (password) yang kuat dan aman sangat membantu kita untuk melindungi diri dari kejahatan siber. Ubahlah kata sandi setiap tiga bulan dan jangan gunakan kata sandi yang sama kembali.

Hati-hati mengklik tautan atau link

Tidak jarang kita jumpai teman-teman yang membagikan link dengan beragam tujuan. Ada yang minta support like di media sosial, ada yang menyebarkan informasi diskon di marketplace, ada juga yang menyebarkan informasi dari website berita.

Tapi sebaiknya berhati-hati lah sebelum meng-klik atau membuka tautan. Membuka tautan yang salah dapat membawa malware ke sistem kita. Pastikan pengirim adalah pihak terpercaya dan dapat dipertanggung jawabkan perbuatannya.

Batasi Informasi

Terkadang kita lalai ketika sedang berinteraksi di media sosial. Padahal informasi yang kita bagikan di media sosial dapat memberikan risiko serangan rekayasa sosial yang lebih besar. Karena itu, batasi jumlah informasi pribadi yang disebarkan dijejaring sosial dan online.

Selektif memilih mesin ATM

Pilihlah mesin ATM dimana mesin ATM terlihat terawat dan tidak terlalu ramai. Hindari lokasi ATM yang sepi dan minim pencahayaan ketika malam dan tidak ada pengawas sama sekali. Walaupun mesin ATM telah dilengkapi CCTV dan fitur canggih untuk keamanan nya, namun akan selalu ada celah bagi pelaku kejahatan.

Selain pemasangan alat skimming, kejahatan lain pun dapat terjadi di sekitar lokasi mesin ATM, seperti hipnotis, mengganjal dan modus lem di ATM, dan lain-lain.

Oleh karena itu, aku, kamu dan kita semua bisa jadi Penyuluh Digital untuk memberantas kejahatan siber dengan menjadi Nasabah Bijak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.